oleh

Warga Tionghoa di Bangka Tengah Rayakan Imlek tanpa Open House

Bangka Tengah – Warga Tionghoa di Kabupaten Bangka Tengah tetap merayakan Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili, meski di tengah pandemi Covid-19.

Namun perayaan tahun ini dilakukan dalam suasana keprihatinan. Pasalnya pandemi Covid-19 membatasi warga untuk berinteraksi secara langsung.

“Dari Imlek tahun kemarin (2020-red) kita sudah prihatin akibat Covid-19 ini. Demi kesehatan bersama, merayakannya hanya dengan keluarga inti saja, tidak ada open house,” ungkap Yoe Sing (50), warga Tionghoa Desa Benteng Kecamatan Pangkalan Baru, Bangka Tengah, Kamis (11/02/2021).

Menurutnya, Imlek di masa sulit sekarang ini harus dimaknai sebagai wujud pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Manfaatkan momentum hari raya ini untuk berdoa dan bersyukur.

“Sekarang banyak yang susah cari nafkah, sulit. Semoga habis Imlek ini wabah corona cepat berlalu dan ekonomi kita pulih lembali, orang-orang dimudahkan dalam memperoleh kerjaan,” harap pria yang kini kerja serabutan pasca kehilangan pekerjaan sebelum pulang dari Jakarta.

Ban Sin Lip (59), pedagang warung sembako, mengungkapkan dirinya dan istri terpaksa membatasi silaturrahmi dengan keluarga lainnya, akibat pandemi Covid-19.

“Padahal putri dan cucu saya mau kongian (Imlek-red) bersama di Bangka, tapi mantu saya melarangnya karena pandemi masih berlangsung, demi kebaikan bersama,” ujarnya.

Senada dikemukakan A Tin (58) dan Heri Gusrianto (27).

Keduanya sependapat untuk tidak berlebihan dalam merayakan Tahun Baru Imlek di masa pandemi. Lantaran berpotensi dalam penyebaran virus corona.

“Kita patuhi anjuran pemerintah, serta disiplin dalam protokol kesehatan,” ujar A Tin.

Heri mengatakan, meski dalam perayaan Imlek terdapat tradisi berkumpul dan makan bersama (silaturrahmi-red), hingga bagi-bagi angpao, namun menjaga kesehatan lebih penting.

Ia menganalogikan bahwa Imlek sekarang menyerupai kegiatan belajar-mengajar melalui daring.

“Bertemu keluarga hanya lewat handphone, sangat beda suasana bathinnya,” tutur Heri.

Dalam merayakan Imlek, ia juga mengajak warga yang merayakannya untuk terus menjaga kebiasaan bagi-bagi angpao sebagi rangkaian dari tradisi Imlek.

“Angpao adalah tradisi sekaligus sedekah, wujud berbagi terhadap sesama. Tak hanya secara langsung tapi juga bisa memanfaatkan fasilitas transfer lewat bank,” anjurnya. (Ismail Muridan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *