oleh

Sosialisasi 4 Pilar di Bangka Selatan, Darmansyah Husein: Babel Ingin Jadi Provinsi di Bawah NKRI

Bangka Selatan – Anggota MPR RI Darmansyah Husein menegaskan bahwa perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersandar pada keinginan untuk mensejahterakan masyarakat dan tetap bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Semangat perjuangan tersebut bukan didasari keinginan untuk merdeka atau mendirikan negara federasi, melainkan untuk tetap bergabung dalam wadah NKRI.

“Pertama kali menuntut Babel jadi provinsi, menuntut keresidenan saat daerah lain sudah jadi provinsi. Kita hanya minta provinsi saat itu tapi tidak diberikan,” katanya saat Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Rabu (17/04/2021).

Ia menjelaskan, tuntutan menjadi provinsi merupakan cita-cita yang diwariskan angkatan pendahulu. Sehingga munculah generasi-generasi berikutnya memperjuangkan terbentuknya Provinsi Bangka Belitung.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, sambungnya, para pejuang pembentukan Provinsi Babel menyatakan bergabung dalam NKRI. Ini membuktikan Bangka Belitung telah lebih dulu menerapkan pilar-pilar kebangsaan dalam sejarah berdirinya provinsi kepulauan ini.

Dalam kesempatan tersebut mantan Bupati Belitung dua periode ini, kembali mengingatkan pentingnya memegang teguh jatidiri bangsa serta mengedepankan nasionalisme dan persatuan Indonesia agar nasibnya tidak terpuruk dalam pergaulan antar bangsa di dunia.

“Boleh memahami budaya luar seperti China, Amerika, Korea. Tapi jangan lupa jatidiri bangsa kita sendiri,” ujarnya.

Dikatakan, bangsa Indonesia memiliki identitas nasional sebagai kekayaan tak ternilai, yang merupakan nilai-nilai luhur bangsa yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Semua itu merupakan pilar negara kebangsaan dalam menjaga Indonesia tetap utuh dan satu kesatuan berlandaskan Pancasila. Salah satunya dengan mengamalkan Pancasila sehingga tidak mudah dihasut dan dipecah-belah.

Sebab itu, katanya, empat pilar sebagai nilai luhur yang harus dipahami oleh seluruh masyarakat dan menjadi panduan dalam kehidupan ketatanegaraan. Sehingga bisa mewujudkan Indonesia menjadi bangsa dan negara yang adil, makmur, sejahtera, dan bermartabat.

Setiap pilar memiliki tingkat, fungsi, dan konteks yang berbeda. Pancasila tetap ditempatkan sebagai nilai fundamental berbangsa dan bernegara.

“Kita adalah negara demokrasi di mana kekuasaan berada di tangan rakyat. Tapi, jangan sampai kita menghilangkan atau melupakan asas musyawarah mufakat yang merupakan bagian kearifan bangsa Indonesia,” ucapnya.

Bermusyawarah mufakat itu, lanjutnya, harus dilakukan bersama-sama sesuai dengan sila 4 Pancasila. Proses musyawarah atau perundingan terasa melelahkan tapi implementasi terhadap keputusan yang dipilih dipastikan tepat dan benar.

“Betapa banyak Undang Undang yang ketuk palu, (tapi) implementasinya gagal karena tidak ada proses mendengar suara-suara itu (masyarakat-red),” tambahnya.

Ia mengajak peserta sosialisasi mengimplentasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari sejak usia dini. Salah satunya melalui kerukunan dalam bermasyarakat antar suku, agama maupun ras.

Ia berpendapat, dengan guyub (rukun) maka semangat kebersamaan menjadi lebih terlihat dan dapat dirasakan. Terutama guyub yang lahir di tengah-tengah masyarakat perdesaan, melalui gotong royong dan tolong-menolong terhadap sesama.

Di akhir paparannya, Darmansyah yang juga senator asal Bangka Belitung ini menyebutkan bahwa MPR harus melakukan sosialisasi agar 4 pilar kebangsaan tetap hidup di masyarakat.

“Jangan sampai ketika bicara tentang Bhinneka Tunggal Ika, toleransi antar umat beragama yang menjadi pilar penting bangsa untuk eksis, kita tidak tau.
Kita harus memelihara itu,” imbuhnya.

Ia berharap sosialisasi dapat memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk juga kebersamaan dan gotong royong. Sehingga tercipta keadilan dan keserasian dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebelumnya, Camat Payung Zainuddin dalam sambutan pengantarnya meminta peserta sosialisasi dapat memanfaatkan pertemuan dan menularkan wawasan yang diperoleh kepada warga lainnya.

Ia berharap melalui forum sosialiasi ini akan memperkokoh semangat kesatuan dan persatuan bangsa, khususnya bagi masyarakat Kecamatan Payung.

Zainuddin juga mengungkapkan sekilas tentang wilayah kecamatan yang dipimpinnya.

Mulai dari kondisi kesehatan agar masyarakat tetap patuh melaksanakan protokol kesehatan di masa Covid-19 hingga pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui kontribusi oleh sedikitnya 300 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Kegiatan sosialisasi dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Payung, para kepala desa dan masyarakat setempat. (ima)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *