back to top
25.5 C
Pangkalpinang
BerandaUncategorizedMasjid Jamik dan Kelenteng Kwan Tie Miau Pangkal Pinang Jadi Situs Budaya...

Masjid Jamik dan Kelenteng Kwan Tie Miau Pangkal Pinang Jadi Situs Budaya yang Direvitalisasi Polda Babel

PANGKAL PINANG, BNBABEL.COM — Kapolda Bangka Belitung Irjen Pol Yan Sultra bersama dengan Forkopimda Bangka Belitung mengikuti Zoom Meeting Doa bersama Lintas Agama, Penganugerahan Pemenang Lomba Berkaitan di Bidang Keagamaan dan Revitalisasi Situs Budaya/Agama, Jumat (30/6/23) siang.

Acara yang diikuti oleh seluruh Polda se-Indonesia ini dilaksanakan secara zoom meeting yang dipimpin oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Untuk Polda Bangka Belitung sendiri, kegiatan dipusatkan disalah satu kelenteng tertua di Babel yakni Klenteng Kwan Tie Miau Pangkal Pinang.

Klenteng Kwan Tie Miau ini merupakan salah satu situs budaya yang menerima revitalisasi dari Polda Bangka Belitung.

Kapolda dalam kesempatan tersebut menerangkan bahwa Klenteng Kwan Tie Miau yang didirikan 18 Desember 1846, dan masih dipergunakan masyarakat keturunan Tionghoa untuk beribadah ini, merupakan situs budaya harus selalu dijaga dan dilestarikan.

Oleh sebab itu, pihaknya dikatakan Kapolda, melakukan revitalisasi tempat ibadah tersebut.

“Kami merevatilasi Klenteng Kwan Tie Miau ini dalam hal berupa sistem pengamanan, membantu usaha kecil mikro menengah di sekitarnya, memberikan peralatan kebersihan dan lainnya,” terang Kapolda.

Selain itu, pihaknya diungkapkan Kapolda turut melakukan revitalisasi tempat ibadah Masjid Jami yang juga merupakan situs budaya yang berada di Pangkal Pinang.

Di Masjid Jamik, kata Kapolda, pihaknya turut merevitalisasi berupa sistem pengamanan CCTV, kelengkapan lalu lintas di jalan utama, renovasi tempat kumuh di perkarangan masjid dan lainnya.

“Situs budaya yang kami revitalisasi adalah Masjid Jamik, masjid tertua terbesar di Pangkal Pinang, yang hingga saat ini ornamennya tidak berubah mencerminkan budaya Melayu,” ungkapnya.

Kapolda juga menuturkan bahwa pihaknya akan berkelanjutan melakukan revitalisasi tempat ibadah lainnya seperti Gereja Maranatha yang berada di titik Nol Kota Pangkalpinang.

Ia juga menambahkan bahwa masyarakat di Babel ini memiliki tolerasi yang sangat tinggi. Apalagi di Babel memiliki semboyan yang hingga saat ini masih dipatuhi masyarakat baik pribumi asli dan Tionghoa yakni Tonghin Pangin Tjin Tjong yang artinya semua setara.

“Falsafah ini yang harus ditanamkan kepada semua masyarakat di Babel, supaya daerah ini selalu kondusif,” pungkasnya. (Julian/Rd)

latest articles

explore more

Arsip berita

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini