oleh

Manfaatkan Sisa Hasil Produksi KIP, Masyarakat dan Nelayan Dulang Rezeki di Laut Matras

BANGKA BELITUNG, BNBABEL.COM — Kehadiran Kapal Isap Produksi (KIP) milik mitra PT Timah Tbk yang beroperasi di perairan Matras kini menjadi ladang peruntungan baru bagi masyarakat setempat.

Pasalnya sisa hasil pencucian bijih timah oleh KIP di wilayah tersebut dimanfaatkan warga sekitar yang berprofesi sebagai buruh penambang timah atau disebut juga ‘pelimbang’ untuk mencari sesuap nasi.

Hal itu tentunya menjadi berkah ekonomi tersendiri bagi warga yang berdomisili di dua kelurahan setempat, yaitu Kelurahan Matras dan Kelurahan Sinar Jaya Jelutung, di tengah kelesuan ekonomi akibat Pandemi COVID-19 yang memicu dampak multiplier effect bagi kelangsungan perekonomian nasional sekitar satu tahun lebih belakangan ini.

Berdasarkan informasi yang terhimpun, setiap harinya para ‘pelimbang’ harus berjibaku di tengah terik matahari dan debur ombak pantai Matras guna mengolah kembali sisa hasil pencucian bijih timah KIP di lokasi tersebut agar menjadi pundi-pundi rupiah.

Terpantau di lapangan beberapa unit ‘sakan’ (baca: wadah pencuci bijih timah yang terbuat dari papan) berukuran kecil terlihat berjejer. Perahu-perahu nelayan setempat yang dijadikan sarana angkutan para ‘pelimbang’ juga terlihat begitu sibuk hilir-mudik.

Kelompok ‘pelimbang’ dari berbagai kalangan masyarakat itu, mulai dari bapak-bapak hingga ibu rumah tangga, terlihat begitu antusias dan bersemangat mendulang bijih timah di perairan Matras.

Seorang warga Lingkungan Ake bernama Yadi (46) saat ditemui pewarta media ini pada Senin (14/06) malam di kediamannya mengungkapkan dirinya merasa sangat bersyukur bisa mencari nafkah dengan mengolah kembali sisa hasil pencucian bijih timah KIP untuk kemudian ia jual ke para pengepul atau kolektor timah.

“Awal mulanya sekitar dua bulan lalu. Pas air surut, beting jadi kelihatan. Jadi banyak yang melimbang (mendulang timah-pen). Ada yang ngecek rombongan dari nelayan Kuala dan Matras,” tutur Yadi mengisahkan.

Ia mengatakan selain menawarkan jasa transportasi, nelayan juga turut mendulang timah di lokasi tersebut.

“Nelayan ikut melimbang. Pelimbang bayar Rp50.000 per orang ke nelayan sebagai ongkos transportasi bagi mau ikutan melimbang ke tengah laut,” ungkapnya.

Selain dari Lingkungan Matras dan Kuala, kelompok nelayan asal Lingkungan Rambak pun ia katakan ikut serta mendulang timah sisa hasil pencucian KIP di lokasi tersebut.

Bicara soal hasil, Yadi menuturkan dirinya setiap hari bisa membawa pulang sekitar 2 sampai 3 kilogram pasir timah.

Adapun untuk harga jualnya, pengepul atau kolektor timah biasa membelinya seharga Rp110.000 hingga Rp130.000 per kilogram, tergantung tingkat kebersihan dari pasir timah itu sendiri.

Sedangkan untuk waktu kerjanya, Yadi mengatakan sangat bergantung dengan pasang surut air laut.

“Gak tentu, pak. Kita melihat keadaan air. Kalau surut baru kita pergi melimbang. Kadang-kadang bisa jam satu malam perginya sampai pagi. Kadang-kadang dari setengah enam sore. Tergantung pasang surut air laut lah yang dihitung,” tutur lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas itu.

Menurut Yadi, kehadiran KIP selama beberapa bulan terakhir ini sangat membantu perekonomian warga setempat, apalagi ketika dirinya saat ini bisa menambah penghasilan dengan mengolah sisa hasil pencucian bijih timah KIP tersebut.

“Harapannya ke depan biar banyak beting, pak. Jadi kalau bisa tambah lagi kapalnya, pak. Dengan banyaknya kapal, berarti banyak yang melimbang. Banyak masyarakat yang dapat duit. Masyarakat bisa menikmati tailingnya KIP, dan kalau bisa jangan diganggu-ganggu lah masyarakatnya. Yang penting aman lah masyarakat. Karena dengan adanya beting itu bisa menguntungkan masyarakat,” harap warga Lingkungan Ake tersebut.

Senada dengan Yadi, seorang nelayan asal Lingkungan Matras, Pardi (59), mengungkapkan hal yang sama.

Dirinya beserta rekan-rekan nelayan merasa bersyukur dapat mendulang timah sisa hasil pencucian KIP di perairan Matras itu.

“Banyak orangnya, pak. Nelayan Rambak, Jelutung, Pemali, Sinar Baru, banyak pak. Nelayan Matras dan Kuala ikut juga itu. Nelayan Kampung Pasir juga pak. Hampir seluruh, banyak lah. Kalau dijumlah itu semua mungkin mencapai sekitar 80 orang. Pelimbang semua. Kalau [saya] sebagai nelayan juga ikut melimbang juga, pak. Anak saya juga melimbang sambil antar jemput juga lah,” tutur Pardi saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Ia juga tak menampik saat ditanya perihal ongkos transportasi yang dikenakan kepada para ‘pelimbang’ yang menggunakan jasa perahu miliknya.

“Ya benar. Sehari dapat 6 sampai 7 orang pelimbang. Itu misalnya kalau mereka itu ada hasilnya, per orangnya minta Rp50.000, pak, untuk ongkos antar jemputnya. Kalau ada hasilnya. Kalau gak ada hasilnya kadang-kadang orang tiga itu kasih Rp100.000, gitu. Tergantung hasilnya,” ucap dia.

Pardi mengungkapkan hasil yang ia peroleh dari mendulang timah sisa hasil pencucian KIP berkisar 5 sampai 10 kilogram setiap harinya, dengan harga jual rata-rata ke pengepul atau kolektor timah senilai Rp125.000 atau Rp130.000 per kilogram.

“Itu ada orang (kolektor timah-pen) yang ngambilnya juga, pak. Orang Lingkungan Hakok,” akui Pardi.

Selain mendulang timah secara manual menggunakan karpet dan piring plastik, ia mengatakan ada juga ‘pelimbang’ yang menggunakan mesin robin.

“Kadang-kadang orang pake mesin ‘TI sebuh-sebuh’ (Tambang Inkonvensional-pen) itu, pak. Pake mesin robin. Itu ngasil, pak. Kadang [dapat] 20 kilo, 30 kilo itu satu orang,” tuturnya.

Pardi berharap, ke depan pihaknya masih tetap bisa mengolah sisa hasil pencucian bijih timah KIP tersebut untuk menambah penghasilannya sebagai nelayan, mengingat hasil melaut saat ini ia katakan sedang berkurang dikarenakan musim yang sedang tidak bersahabat.

“Harapan besar, pak. Banyak bersyukur istilahnya kan. Kadang waktu hari merebus ketupat, besok lebaran Idul Fitri itu nelayan dari Matras, orang tiga, 80 Kilo dapatnya, pak. Rp8.000.000 lebih itu satu hari. Sampai-sampai nelayan Kuala itu juga gak merayakan Idul Fitri. Merayakannya di beting itu, pak. [ikut] melimbang dengar kabar orang Rambak banyak dapat, besok dia pergi,” ungkapnya sambil tertawa.

Ditambahkan lagi oleh Pardi, melihat capaian hasil yang cukup menjanjikan, banyak rekan-rekannya sesama nelayan kini beralih profesi sementara menjadi penambang timah di perairan Matras tersebut.

“Penghasilan melaut ini kan ada hari-hari tentu maksudnya, pak. kalau sotong (cumi-pen) ya sekarang ini bayarnya Rp70.000 lebih satu kilonya. Kadang-kadang 2 kilo, 3 kilo dapatnya. Kayak ikan jaring itu Rp5.000, Rp10.000 sekilo. Sekarang orang itu (nelayan-pen) kegiatan itu (melaut-pen) ditinggal, pak. Lebih baik melimbang mereka. Soalnya biaya minyaknya itu tidak seberapa. Kalau kita nyari ikan itu biayanya sekitar Rp100.000, Rp200.000 keluar minyak bensinnya, pak. Kadang-kadang gak pulang modal kita, pak. Jadi mending melimbang lah sesuai hasilnya. Dapat 2 kilo, 3 kilo lumayan,” akui Pardi menceritakan.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Kelurahan Sinar Jaya Jelutung, Rizky, menyambut positif dengan adanya kegiatan pengolahan sisa hasil pencucian bijih timah KIP yang dilakukan oleh warga setempat. Sebab menurutnya hal itu bisa memberikan peluang pekerjaan baru bagi warga yang sedang menganggur.

“Saya mewakili tokoh pemuda di Kelurahan Sinar Jaya Jelutung sangat mendukung kehadiran KIP ini. Karena di sini memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat kita. Apalagi di tengah masa pandemi ini banyak masyarakat kita yang butuh pekerjaan untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Nah, dengan adanya beting yang ada sekarang, itu terbukti memberikan dampak nilai lebih ekonomi kepada masyarakat kita. Artinya di sini yang tadinya mereka tidak memiliki pendapatan, apalagi di tengah harga timah yang naik cukup signifikan ini [dapat] memberikan kehidupan kepada mereka. Kepada masyarakat lokal, terutama yang ada di Kelurahan Sinar Jaya Jelutung dan Matras. Dari satu orang saja kalau dapat 3 kilo sekali melimbang itu sudah lumayan. Artinya dengan harga [timah] saat ini, mereka sudah dapat mencukupi kehidupan mereka sehari-hari,” tuturnya yang turut memberi dukungan penuh.

Jurnalis: JAM

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *