oleh

Kominfo Ajak Masyarakat Bijak Manfaatkan Digital Platform Melalui Literasi Digital

KOBA, BNBABEL.COM – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengajak masyarakat untuk bijaksana dalam memanfaatkan digital platform, melalui kegiatan literasi digital.

Kemenkominfo menargetkan sebanyak 600 peserta dari 77 kabupaten/kota area Sumatera II, mencakup Aceh hingga Lampung, menjadi sasaran edukasi dan mewujudkan masyarakat lebih paham literasi digital, dalam kegiatan tersebut.

Literasi digital menyasar para PNS, TNI / Polri, orangtua, pelajar, pegiat usaha, pendakwah dan sebagainya.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman, dalam pengantarnya sebagai keynote speaker pada kegiatan tersebut mengatakan, literasi digital Kementerian Kominfo harus dimanfaatkan dengan baik oleh putra-putri daerah guna membangun daerahnya masing-masing melalui digital platform.

Selain Gubernur Babel, Presiden Joko Widodo turut memberikan sambutan serta mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Melalui keterangan resmi yang diterima redaksi, Literasi Digital Kabupaten Bangka Tengah digelar secara daring pada Senin, (26/06/2021), mempresentasikan sedikitnya empat tema pokok.

Ke empat kerangka digital yang diberikan dalam kegiatan tersebut, yaitu digital skill, digital safety, digital ethic dan digital culture. Setiap kerangka memiliki beragam tema.

Dalam paparan kerangka digital yakni digital skill, Relawan TIK Babel dan 1001 Digitalpreneur Akbar Riandi menyampaikan materi Pentingnya Memiliki Digital Skill di Masa Pandemi Covid-19.

Akbar menilai, pemanfaatan teknologi oleh masyarakat Indonesia tidak sebanding dengan tingkat literasi digital masyarakat. Menurutnya, tingkat literasi digital masyarakat saat ini masih tergolong rendah, terutama keamanan dalam penggunaan teknologi.

Sebab itu, Akbar mengajak masyarakat memperluas skill di saat work from house (WFH).

“Caranya dengan membaca buku, membuat konten, mendengar podcast, hingga menonton youtube dan kegiatan pemanfaatan teknologi digital lainnya,” ajaknya.

Dalam kesempatan itu, ia memaparkan berbagai kiat sukses skill bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Para pelaku UMKM, kata dia, harus memiliki sikap konsisten dengan brand, visualisasi dan packaging yang bagus, produknya unik dan berbeda, fokus terhadap kepuasan konsumen, respon yang cepat dan jujur serta komitmen dalam ketersediaan produk.

Akbar menggambarkan pemetaannya melalui empat faktor, berupa marketing, desain produk, teknologi dan financial.

Marketing, sebutnya, harus terfokus pada pemasaran (soft dan hard selling) maupun managemen konten di media sosial. Sedangkan desain produk lebih menekankan pada MVP, design thinking, BMC, dan design sprint.

“Untuk pemetaan teknologi meliputi user interface / user experience, CMS (blogspot maupun wordpres, aplikasi web dan aplikasi android, hingga domain dan hosting,” ujarnya.

Sementara terhadap faktor financial, Akbar menitikberatkan pada manajemen pengelolaan keuangan yang baik.

Akses Informasi
Pegiat Sosial Media Bangka Tengah, Hendri mengupas digital culture dengan mengangkat tema “Mengenalkan Budaya Indonesia Melalui Literasi Digital”.

Ia berpandangan bahwa media sosial dibutuhkan dalam menyebarkan pemahaman kebudayaan Indonesia saat ini.

Hendri menyebut beragam media sosial yang biasa digunakan untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia antara lain whatsapp, instagram, facebook, youtube dan twitter.

“Perputaran informasi yang cepat menyebabkan penyebaran informasi menjadi lebih mudah untuk diakses. Terlebih bagi kaum muda yang menghabiskan waktu dan minat mereka di bidang media ini,” paparnya.

Di akhir pemaparannya, Hendri memberikan kalimat inspirasi yang dikutip dari tokoh Proklamator, Bung Hatta.

“Kata Bung Hatta, kebudayaan tidak dapat dipertahankan saja, kita harus berusaha merobah dan memajukan, oleh karena kebudayaan sebagai kultur, sebagai barang yang tumbuh, dapat hilang dan bisa maju,” ujarnya.

Serangan Siber
Sementara pada sesi kerangka digital safety, CEO Founder LiteBIG Tesar Sandika Pura ST MT membawa materi “Pentingnya Memahami Jenis Serangan Cyber dan Perlindungannya”.

Dalam paparannya, Tesar Sandika mengungkapkan bahwa berdasarkan data survei dari sumber BSSN menyebutkan, sebanyak 57 persen kerentanan siber adalah SQL Injection, yaitu tentang databased.

Banyak kasus yang terjadi antara lain dialami perusahaan banking dan nasabah bank yang dirugikan oleh para hacker, mencapai milyaran rupiah.

Ia juga memaparkan berbagai alasan seseorang melakukan serangan siber, seperti keinginan untuk mencuri identitas, penjualan data pribadi, pencurian kredensial (login password), penyebaran malware (trojan, ransomeware), pencurian dana tabungan, penyerangan melalui buku kontak, hingga cyberwarfare atau perang dunia maya.

Beberapa piranti yang rentan terhadap hal tersebut dan harus menjadi perhatian, kata dia, meliputi domain proteksi pada hardware alias perangkat keras seperti network device, memori, disc drive, terminal dan sebagainya. Serta software atau perangkat lunak berupa proses & coding, file, data basis.

Begitu juga dengan keamanan sistem terdiri dari external security, user interface security dan internal security. Menurutnya, sistem operasi yang sudah dirancang pastinya memiliki perangkat pengamanan yang harus selalu dimonitor.

Masalah keamanan sistem, menurut Tesar, antara lain kehilangan data (data loss) seperti bencana, kesalahan hardware & software, dan kesalahan manusia. Untuk penyusup (hacker) ada yang pasif dan aktif.

“Cara menghindari phising diantaranya waspada, cek dan re-cek, cek fitur versi asli dan otentik pada email, cek penggunaan https, cek domain, tidak buru-buru ketika mengklik link atau attachement dan lain lain,” anjurnya.

Apabila sudah terlanjur terpapar, ia menyarankan untuk melakukan pemeriksaan atau pengecekan melalui laman cekrekening.id, turnbackhoax.id, cekfakta.com, virustotal.com, https://hoaks.infovaksin.id/ dan pelaporan ke patrolisiber.id, hingga melapor ke kantor polisi terdekat jika sudah terjadi kerugian materi.

Pada sesi digital ethic, akademisi Siska Wuri Prabandari SPd menyoroti Bahaya Pornografi Bagi Perkembangan Otak Anak.

Dalam paparannya, Siska mengulas pengertian pornografi hingga berbagai media yang dikategorikan pornografi berdasarkan pada UU 44 tahun 2008.

“Tentang bahaya dari pornografi, beberapa dampak yang akan terjadi pada anak antara lain akan merusak otak, kecanduan, keinginan mencoba dan meniru, dan akan merusak mental anak,” jelasnya.

Untuk mencegahnya, Siska mengingatkan pentingnya pondasi agama yang kuat, penerapan aturan dan disiplin dalam keluarga, serta pendidikan seks sejak usia dini dan remaja.

Selain itu, kata dia, anak harus dihindari dari perilaku menyendiri, dan memperbanyak aktifitas yang baik, mendidik dan bergabung dengan komunitas positif.

Pada sesi sharing, influencer dengan 331K subscriber Ivo Herawaty, mengingatkan para orang tua dalam mendidik dan mengawasi anak dapat memberikan edukasi yang tepat dengan cara benar, terutama dalam menggunakan media sosial dan internet. (rilis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *