oleh

Ketua Alobi Foundation Babel Sebut Buaya Versus Manusia Dalam Keadaan Darurat

BANGKA, BNBABEL.COM – Serangan buaya kepada manusia yang terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga saat ini masih saja sering terjadi. Hal ini bisa terjadi disebabkan ada dua kemungkinan, yang pertama populasi buaya semakin meningkat atau alasan kedua populasi manusia yang meningkat.

Alobi Foundation Provinsi Bangka Belitung yang merupakan lembaga konservasi khusus untuk seluruh satwa liar yang dilindungi meminta pemerintah provinsi maupun kabupaten untuk serius menyikapi konflik buaya versus manusia yang masih sering terjadi.

Ketua Alobi Foundation Provinsi Babel, Langka Sani mengatakan saat ini masih banyak elemen yang belum serius dalam melihat permasalahan ini. Ia menyebutkan dalam satu bulan terakhir ada kejadian yang memakan korban di Kecamatan Riau Silip, Bangka dan ada penyerangan buaya terhadap warga Toboali yang sedang muket.

“Bahkan hari Senin sore kemarin Ketua DPRD Bangka juga mengalami penyerangan buaya muara. Saya merasa ini cukup sebagai pertanda peringatan bagi kita,” ujarnya, Rabu (30/11/2021).

“Konflik buaya versus manusia di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini sudah menjadi keadaan darurat dan masuk dalam kategori bencana,” tegas Langka Sani.

Melihat kejadian yang masih saja terus terjadi, maka pihaknya meminta kepada pemerintah daerah untuk mengambil langkah-langkah serius dalam menangani permasalahan ini.

“Hingga saat ini pemerintah provinsi maupun kabupaten belum menetapkan daerah untuk habitat buaya. Sementara, kondisi kandang buaya milik Alobi sekarang ini sudah terisi 31 ekor buaya hasil dari penyelamatan penangkapan warga. Dan kapasitas tempat penangkaran kita hanya berkapasitas untuk menampung 40 ekor saja,” terangnya.

Menurutnya, penetapan daerah atau wilayah untuk habitat buaya sangatlah diperlukan mengingat kondisi habitat alami buaya di Bangka Belitung sudah mengalami kerusakan akibat adanya aktivitas penambangan timah ilegal.

“Kami mengharapkan kepada pemerintah provinsi maupun kabupaten untuk bisa melestarikan buaya hasil tangkapan di lokasi yang sudah ditentukan. Karena daya tampung yang kita miliki sangat terbatas, jika ini tidak segera dicarikan solusinya maka akan menjadi bencana besar bagi buaya ataupun manusia,” pungkasnya.

Penulis : Ib

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *