oleh

Harta Karun RI Ternyata Ada Di Bangka Belitung, Yo Kita Jaga Jangan Sampai Dicuri

JAKARTA, BNBABEL.COM–Tekad Indonesia untuk merajai pangsa pasar international dengan produk unggulan seperti baterai hingga mobil listrik bukan sesuatu yang mustahil menyusul ditemukannya bahan baku yang melimpah terkait produk unggulan itu.

Sejumlah laporan menyebutkan,  komoditas tambang sebagai sumber bahan baku produk unggulan itu terhampar dalam ‘perut’  bumi   Bangka Belitung. ‘Harta karun’ berupa sumber daya tambang yang belum dikembangkan ini bernama logam tanah jarang (LTJ) atau Rare Earth Element. Komoditas ini dinamai logam tanah jarang karena didasarkan pada asumsi yang menyatakan bahwa keberadaan logam tanah jarang ini tidak banyak dijumpai. Namun pada kenyataannya, LTJ ini melimpah, melebihi unsur lain dalam kerak bumi.

Seperti dilaporkan CNBC Indonesia, Senin (23/08/2021),
Indonesia memang belum memiliki data utuh terkait total sumber daya LTJ ini karena masih minimnya penelitian dan survei geologi terkait LTJ di tanah air. Namun berdasarkan buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” oleh Pusat Sumber Daya Mineral, Batu Bara dan Panas Bumi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2019, sumber daya logam tanah jarang yang berhasil diteliti di beberapa wilayah tercatat mencapai 72.579 ton, berasal dari endapan plaser dan endapan lateritik.

“Endapan plaser ini banyak dijumpai pada lokasi kaya sumber daya timah seperti di Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat,” tulis CNBC Indonesia.

Laporan itu juga menyebutkan, Pusat Sumber Daya Geologi-Badan Geologi pada 2014 melakukan kajian untuk mengetahui potensi sumber daya LTJ dalam endapan tailing di wilayah Pulau Bangka dengan menggunakan metoda interpretasi remote sensing. Hasil kajian menunjukkan tebal endapan tailing 4 m hingga 6 m, luas total endapan tailing 500.000 ha, sehingga diperoleh volume 5.500.000.000 m3. Dengan kadar total LTJ 9,5 gr/m3, maka tonase LTJ mencapai 52.387.500.000 gr atau 52.000 ton.

Logam tanah jarang merupakan salah satu komoditas mineral yang bisa digunakan untuk banyak peralatan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai bahan baku sumber energi untuk baterai, telepon seluler, komputer, industri elektronika bahkan hingga pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/ Angin (PLTB), lalu bahan baku industri pertahanan hingga kendaraan listrik.

Mengutip buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” yang diterbitkan Badan Geologi Kementerian ESDM 2019, logam tanah jarang (LTJ) merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk “critical mineral” yang terdiri dari kumpulan dari unsur-unsur scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).

Keterdapatan LTJ umumnya dijumpai dalam sebaran dengan jumlah yang tidak besar dan menyebar secara terbatas. Seperti halnya thulium (Tm) dan lutetium (Lu), kedua unsur ini merupakan dua unsur yang terkecil kelimpahannya di dalam kerak bumi tetapi 200 kali lebih banyak dibandingkan kelimpahan emas (Au).

Meskipun demikian, unsur-unsur tersebut sangat sukar untuk ditambang karena konsentrasinya tidak cukup tinggi untuk ditambang secara ekonomis. Ketujuh belas unsur logam ini mempunyai banyak kemiripan sifat dan sering ditemukan bersama-sama dalam satu endapan secara geologi. (BN11)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *