oleh

Bincang Milenial Mengupas Politik Kaum Milenial: Buta Yang Paling Berbahaya Adalah Buta Politik

BANGKA, BNBABEL.COM — Buta yang paling berbahaya itu adalah buta politik.Karena buta politik berarti membutakan masa depan. Ini jawaban Sarinah Marsyah, Mahasiswi Jurusan Sastra Inggris Universitas Bangka Belitung (UBB), saat ditanya sikapnya tentang politik.

Sikap Marsyah ini Ia sampaikan saat menjadi narasumber talkshow di BN Radio, dalam acara Bincang Milenial, yang digelar di Studio BN Radio di Jalan Bukit Kuala Kelurahan Matras, Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulaun Bangka Belitung, Sabtu (20/11/2021).

“Politik itu kan kekuasaan. Bicara politik berarti kita sedang membicarakan kekuasaan. Kekuasaan yang bagaimana? Ya harusnya kekuasaan yang mampu mengangkat kesejehateraan masyarakat secara luas,“ ucap Marsyah bersemangat.

Dalam acara Bincang Milenial ini, Marsyah tidak sendirian. Ia bersama Jessica Aulia Gani, seorang Mahasiswi Teknik Perancangan Mekanik, Polman Babel.

Dipandu Host BN Radio, Bang Aboul, ketiganya berdiskusi dalam program Bincang Milenial, mengusung tema Politik Dimata Milenial, mulai pukul 10.00 WIB – 11.00 WIB.

Karena itu, kata Marsyah, semua masyarakat dalam tingkatan apapun harusnya mau membicarakan politik ini, agar kekuasaan sebagai puncak dari proses politik itu, bisa memberikan kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat.

Pasalnya kata Marsyah, percuma sebagai mahasiswa, Ia dan rekan-rekannya memiliki ilmu dan keterampilan yang mumpuni. Jika kebijakan politik tidak mendukung, maka ilmu dan keterempialan yang didapat dari bangku kuliah akan sulit diterapkan.

“Dan ujungnya, apa yang sudah kita persiapkan untuk masa depan nanti, akan tidak berdaya guna, baik untuk kita sendiri maupun orang lain.

Jika kebijakan yang dibangun tidak mendukung,“ tukasnya.
Mahasiswa jangan alergi dengan politik. Mahasiswa juga harus melek politik, dan mulai sekarang harus mau dan mampu melibatkan diri dalam proses politik baik tingkat lokal maupun nasional.

“Sebagai mahasiswa, kita tidak boleh hanya belajar dan belajar saja, hanya terpaku untuk mengejar nilai tinggi, lalu lulus dengan predikat terbaik. Tetapi kita buta politik. Nanti siapa yang akan mengelolah negeri ini, jika generasi sekarang buta politik,“ timpal Jessica.
Ditegaskan Jessica, jika bukan generasi sekarang yang mulai belajar dan mau berproses dengan politik, siapa lagi.

“Karena kitalah nanti sang pemilik negeri ini. Dari sekarang kita harus mulai belajar politik, karena setiap kebijakan nantinya selalu saja dipengaruhi oleh politik. Untuk menentukan harga bawang pun terkadang dipengaruhi oleh poltik,“ tukas Jessica.

Keduanya sepakat, bahwa kaum milenial harus melek poliitik. Karena bagi Jessica maupun Marsyah, bicara politik berarti bicara masa depan negeri dan masa depan masyarakat.

“Jangan sampai para pemimpin nantinya baik itu di lembaga eksekutif maupun legislatif diduduki oleh para politikus yang tidak mumpuni, yang tak mampu mengelolah negeri ini menjadi negeri yang memberikan keberkahan. Karena itu, mulai sekarang kita harus mau berproses dalam politik, minimal kita mau mencari, memilah dan memilih pemimpin yang berkualitas, bukan asal kenal ataupun asal-asalan saja,“ ungkap Marsyah, yang diaminkan oleh Jessica.

Saat ditanya Host BN Radio Bang Aboul tentang sikap mereka soal Politik Logistik, keduanya menolak. Alasan mereka, jenis politik ini sama halnya dengan membodohi diri sendiri dan seluruh masyarakat.

“Kalau kita tergoda dengan politik logistik ini, maka ujungnya lima tahunan kita akan mengalami stangnan, atau bahkan kemunduran, karena politik logistik berarti kita membangun politik transaksional, yang selalu menjadi materi sebagai tujuan,“ tukas Jessica.

Mengenai pemimpin pasca 2024 nanti, kedua mahasiswi ini mengaku belum memiliki pilihan. Selain waktu yang masih cukup panjang, keduanya juga mau melihat dahulu dan memilah sepak terjang tokoh-tokoh yang mulai muncul ke publik saat ini.

Tidak saja tokoh yang akan menjadi presiden RI nantinya, kedua mahasiswa ini juga memantau perkembangan tokoh-tokoh lokal yang akan maju pada Pilkada Kabupaten/Kota maupun Pilkada Provinsi.

“Belum ada sih siapa yang akan saya pilih. Kan masih jauh. Kita tentu ingin para tokoh ini bekerja dahulu sebaik-baiknya, tunaikan tugas sebaik-baiknya pula, nanti kita akan melihat capaian mereka. Sebagai generasi muda, kita tentu akan lebih komprehensif dalam menjatuhkan pilihan,“ ujar Jessica.

Sedangkan, Marsyah mengaku saat ini pengen tokoh perempuan muncul untuk menjadi pemimpin masa depan Indonesia, baik tingkat lokal maupun nasional.

“Kan baru satu kali kita punya presiden perempuan. Pengennya nanti di 2024 kita juga bisa memiliki presiden perempuan,“ tandasnya.

Saat ditanya, siapa kira-kiranya kandidat Calon Gubernur Babel yang akan mereka bidik untuk didukung pada Pilkada Gubernur Babel 2024 mendatang, keduanya menjawab belum ada.
“Belum ada yang pas. Nantilah kita lihat dua tahun ini,“ tukas Marsyah. (BN11)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *