oleh

Anak Nelayan Bangka Menulis Surat kepada Presiden: Pak Jokowi, Kami akan Kehilangan Masa Depan

Pangkalpinang – Sepucuk surat hasil goresan tangan seorang anak nelayan Pantai Matras, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung viral dan menghiasi laman media sosial, di forum-forum seputar Bangka Belitung. Pasalnya, surat itu ditujukan kepada Presiden Joko Widodo.

Adalah Rekas Tian Agung, siswa Sekolah Dasar Negeri 7 Sinarjaya Jelutung, Sungailiat, Bangka mencurahkan keprihatinan atas nasib keluarganya dan anak nelayan di pesisir Kampung Matras.

Rekas merupakan anak seorang nelayan yang bernama Cecep Agung Priyatna tinggal di Sinarjaya, Kelurahan Sinarjaya Jelutung, Sungailiat Bangka.

Dalam surat tertanggal 19 Januari 2021 itu, Rekas mengawalinya dengan salam dan doa agar Presiden Jokowi dalam keadaan sehat.

Ia bercerita sudah dua bulan lebih ayahnya tidak melaut. Selain karena cuaca kurang bersahabat, tulisnya, juga akibat rusaknya terumbu karang oleh kapal isap produksi yang melakukan penambangan timah di wilayah itu.

“Harusnya musim saat ini banyak ikan tenggiri dan cumi bisa dibawa ayah pulang. Tapi sekarang ayah tidak bisa mencari ikan lagi,” tulisnya.

Di akhir surat bertinta biru yang ditulis tangan sendiri, Rekas menyebut Presiden merupakan orang baik. Karena itu ia berharap Jokowi bisa membantu ayahnya dan nelayan Matras lainnya yang sekarang hidup dalam keprihatinan.

“Aku dan ribuan anak nelayan lainnya akan kehilangan masa depan, tolong bantu kami menjaga laut tetap bersih, Pak. Di sana ada masa depan aku dan teman-temanku,” keluhnya.

Viralnya surat Rekas di media sosial membuat pegiat sosial Kabupaten Bangka, Mustam bersuara.

Ia menilai surat tersebut merupakan bentuk kekecewaan keluarga nelayan terhadap beroperasinya kegiatan penambangan di Pantai Matras.

Menurutnya, kondisi ini menyiratkan bahwa anak-anak nelayan Matras sudah bisa merasakan penderitaan orangtuanya. Hal itu, sebutnya, merupakan hal yang sangat luar biasa.

“Lalu bagaimana dengan orang-orang yang selama ini melakukan penambangan yang katanya legal dan dilindungi, tapi tak mengenal aspek sosial dan hak para nelayan akan laut Matras yang selama ini adalah periuk nasi mereka,” sebutnya melalui aplikasi pesan WhatsApp, Minggu (24/01/2021).

Ia berpendapat laut Matras dan sekitarnya juga terdapat hak para nelayan untuk hidup dan dilindungi oleh UUD 1945. Karenanya Mustam meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan kehidupan rakyat kecil seperti nelayan. Termasuk perhatian terhadap kekecewaan para nelayan atas masih beroperasinya kegiatan tambang di Pantai Matras.

Ia berharap pemerintah, baik pusat maupun daerah bersikap bijak dengan tidak membiarkan kondisi ini semakin larut. Sehingga semakin berdampak buruk terhadap kehidupan nelayan.

“Kita berharap ada aksi kongkret dari pemerintah untuk menyelesaikan ini secara adil,” tutupnya. (IM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *